contoh laporan praktikum EPMS

  1. I.                   Judul Laporan

ISOLASI ETIL P-METOKSISINAMAT

  1. II.                 Tujuan

Memperoleh etil p-metoksisinamat dari rimpang kencur

  1. III.              Alat dan Bahan

Alat :

 

©      Selang

©      Botol kaca/ botol syrup

©      Panci kecil

©      Toples kaca

©      Baskom

©      Aluminium foil

©      Isolasi/ lakban

©      Es batu

©      Labu ukur

©      Pembakar spiritus

©      Kaki tiga

©      Kasa

©      Erlenmeyer

©      Kertas saring

©      Corong

 

 Bahan :                                         

©      Rimpang kencur

©      Alkohol  96%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alur Cara kerja ISOLASI ETIL P_METOKSISINAMAT

 

 

 

 

 

  1. IV.              Hasil Percobaan

No.

Perlakuan

Sebelum

Sesudah

1

Rimpang kencur dicuci bersih,

 

Dengan air yang mengalir

 

Rimpang kencur bersih

 

Iris tipis dan keringkan

 

Tipis dan bentuk sesuai dengan aslinya

 

Berbentuk simplisia kering

Serbukan

Bentuk simplisia kering

Warna krem

Tepi melingkar ke dalam

Serbuk kencur

2

Timbang

47.400 mg

Masukan toples ® rendam dengan alkohol 96%

 

Berbentuk serbuk seberat 47.400 mg

 

Serbuk terendam oleh alkohol yang telah di lebihkan 1 cm dari batas serbuk kencur

 

Tunggu 1×24 jam

 

 

 

 

Saring rendaman kencur dan tampung dalam bekor gelas dan ukur

Rendaman kencur

 

Ektrak kencur cair

 

Lakukan rendaman hingga 3x penaringan

 

Volume akhir ektrak kencur  ±150 ml

3

Ektrak kencur cair di tim untuk memisahkan alkohol dengan ektrak kencur

 Volume 150 ml

Alkohol terpisah dari ektrak kencur sehingga diperoleh ektrak kencur kental

4

Masukan dalam bekor gelas, tutup dengan aluminium foil. Masukan lemari es

Berbentuk ektrak kental

Terdapat sedikit serbuk dalam ektrak kencur yang kental

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Analisa

            Pada hasil analisa ini ada bebrapa yang mempengaruhi proses pembuatan ektraksi alami atau ektraksi kencur. Yaitu :

  1. Jenis pelarut

Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi harus mempunyai kepolaran yang berbeda. Hal ini disebabkan kandungan kimia dari suatu tumbuhan hanya dapat terlarut pada pelarut yang sama kepolarannya, sehingga suatu golongan senyawa dapat dipisahkan dari senyawa lainnya (Sumarnie et al, 2005).

                                                     

Pelarut yang digunakan pada proses isolasi EPMS menggunakan Etanol 96% yang bersifat agak polar sedangkan pelarut yang baik untuk menarik EPMS adalah heksana yang bersifat polar. Sehingga hasil yang didapatkan kutang maksimal.

 

  1.  Temperatur

Beberapa zat dalam larutan akan rusak atau terurai dan menguap dengan pemanasan sehingga suhu ekstraksi harus diperhatikan agar senyawa yang diharapkan tidak rusak. Oleh karena itu ekstraksi etil p-metoksi sinamat dari kencur tidak boleh menggunakan suhu yang lebih dari titik lelehnya yaitu 48 – 50⁰C.

 

Dalam proses isolasi yang digunakan pada praktikum ini pemanasannya menggunakan kompor yang suhunya cenderung lebih tinggi daripada menggunakan pembakar spiritus sehingga EPMS yang di hasilkan kurang maksimal karena banyak yang ikut menguap bersama dengan minyak atsiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. V.                Kajian Teori

 

MASERASI

Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya merendam) : adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian (Farmakope Indonesia, 1995). Apa yang disebut “bahan nabati”, dalam dunia farmasi lebih dikenal dengan istilah “simplisia nabati”.

Langkah kerjanya adalah merendam simplisia dalam suatu wadah menggunakan pelarut penyari tertentuk selama beberapa hari sambil sesekali diaduk, lalu disaring dan diambil beningannya.

Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi zat aktif dari suatu tanaman ataupun hewan menggunakan pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang bersifat “bisa campur air” (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada juga pelarut yang bersifat “tidak campur air” (contohnya aseton, etil asetat, disebut pelarut non polar atau pelarut organik). Metode Maserasi umumnya menggunakan pelarut non air atau pelarut non-polar.

Teorinya, ketika simplisia yang akan di maserasi direndam dalam pelarut yang dipilih, maka ketika direndam, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang penuh dengan zat aktif dan karena ada pertemuan antara zat aktif dan penyari itu terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam penyari) sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif, katakan 100%, sementara penyari yang berada di luar sel belum terisi zat aktif (nol%) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan di luar sel. Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan konsentrasi (istilahnya “jenuh”).

Keuntungan dari metode ini :

1. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam

2. Beaya operasionalnya relatif rendah

3. Prosesnya relatif hemat penyari

4. Tanpa pemanasan

 

Kelemahan dari metode ini :

1. Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja

2. Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari

PERKOLASI

Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi). Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena:
a.Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
b.Ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari.karena kecilnya saluran kapiler tersebut,maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas,sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

 

Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari,maka cara perkolasi diganti dengan cara reperkolasi. Pada perkolasi dilakukan pemekatan sari dengan pemanasan pada reperkolaso tidak dilakukan pemekatan. Reperkolasi dilakukan dengan cara sinplisia dibagi dalam beberapa percolator.
Perkolasi Bertingkat.

Dalam proses perkolasi biasa,perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang maksimal. Selama cairan penyari melakukan penyarian serbuk simplisia , maka terjaji aliran melalui lapisan serbuk dari atas sampai ke bawah disertai pelarutan zat aktifnya. Proses poenyaringan tersebut aakan menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesanm pertama dan terakhir akan diperoleh perkolat yang encer.

Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dialkukan cara perkolasi bertingkat. Serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna sebelum dibuang ,disari dengan cairan penyari ang baru. Hal ini diharapkan gar serbuk simplisia tersebut dapat tersari sempurna. Sebaliknya sewrbuk simplisia yang baru disari dengan perkolat yang hampir jenuh, dengan denikian akan diperoleh perkolat akhir yang jernih. Perkolat dipisahkan dan dipekatkan.

Cara ini cocok bila digunakan untuk perusahaan obat tradisional,termasuk perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar dioperoleh cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan pendahuluan. Dengan percobaan tersebut dapat ditetapkan :
1.Jumlah percolator yang diperlukan.
2.Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi.
3.Jenis cairan penyari.
4.Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi.
5.Besarnya tetesan dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

ETIL P-METOKSISINAMAT

Masyarakat Indonesia secara turun-temurun telah memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk bahan obat tradisional baik sebagai tindakan pencegahan maupun pengobatan terhadap berbagai jenis penyakit. Salah satu tanaman yang dijadikan sebagai obat tradisional adalah Kencur (Kaemeria galangal L.). Ekstrak kencur didapatkan dengan cara perkolasi serbuk rimpang kencur (Kuswahyuning dan Soebagyo, 2005).
Pemanfaatan tumbuhan obat tradisional akan terus berlangsung terutama sebagai obat alternatif, hal ini terlihat pada masyarakat daerah yang sulit dijangkau oleh fasilitas kesehatan modern. Dalam masa krisis ekonomi seperti saat ini, penggunaan obat tradisional lebih menguntungkan karena relatif lebih mudah didapat, lebih murah dan dapat diramu sendiri, selain itu bahan bakunya dapat ditanam di halaman rumah sebagai penghias taman ataupun peneduh halaman rumah (Sulianti et al, 2005)
Dalam ekstrak kencur terdapat senyawa sinamat. Sinamat adalah salah satu senyawa yang berpotensi sebagai senyawa tabir surya. Oktil sinamat contohnya saat ini cukup populer dalam industri kosmetika karena memiliki aktivitas perlindungan yang tinggi dan tidak memiliki efek samping. Senyawa turunan alkil sinamat lain diharapkan juga dapat menyerupai sifat dari oktil sinamat tersebut (Wahyuningsih et al., 2002).

Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi harus mempunyai kepolaran yang berbeda. Hal ini disebabkan kandungan kimia dari suatu tumbuhan hanya dapat terlarut pada pelarut yang sama kepolarannya, sehingga suatu golongan senyawa dapat dipisahkan dari senyawa lainnya (Sumarnie et al, 2005).

Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah salah satu senyawa hasil isolasi rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) yang merupakan bahan dasar senyawa tabir surya yaitu pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. EPMS termasuk dalam golongan senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air, dan heksana.

Senyawa Etil p-metoksi Sinamat adalah berfasa padat dan berukuran sangat kecil, sehingga untuk memisahkannya dari tanaman kencur, kita harus menggunakan teknik pemisahan ekstraksi padat-cair.

Ada tiga pilihan yang dapat digunakan untuk teknik ekstraksi padat cair; maserasi, perkolasi dan sokletasi. Jika kita melihat dari senyawa yang akan diisolasi, maka cara perkolasi-lah yang dianggap lebih tepat untuk digunakan. Karena suhu yang tidak terlalu tinggi pada cara perkolasi tidak akan membuat rusak senyawa Etil p-metoksi Sinamat. Sebenarnya cara maserasi juga dapat digunakan, namun waktu yang diperlukan jauh lebih lama dan isolat yang didapatkan juga tidak banyak.

Prinsip kerja dari ekstraksi adalah memisahkan 2 komponen berdasarkan pelarut dan perbedaan konsentrasi, sehingga untuk memisahkan suatu senyawa dari tumbuhan, harus digunakan pelarut yang kepolarannya sejenis dan memiliki konsentrasi yang rendah. Senyawa Etil p-metoksi Sinamat bersifat nonpolar, sehingga digunakan pelarut n-heksan yang bersifat nonpolar pula.

 

 

  1. VI.               KESIMPULAN

Untuk mengisolasi etil p-metoksi sinamat seharusnya menggunakan pelarut heksana yang bersifat polar, tetapi pada praktikum ini isolasi etil p-metoksi sinamat menggunakan pelarut etanol 96% yang bersifat agak polar .

Selain itu suhu yang digunakan pada praktikum ini suhunya lebih dari 50°C .

Sehingga hasil etil p-metoksi sinamat yang di dapat tidak maksimal di karenakan etil p-metoksi sinamat ikut menguap bersama minyak atsiri .

 

contoh laporan praktikum larutan

Judul Laporan :

LARUTAN

Tujuan :

v  Membedakan larutan dari bentuk, warna , volume

v  Membedakan kadar kelarutan .

Alat dan bahan

                 ALAT

BAHAN

  • Beker Glass                                         
  • Gelas Ukur
  • Serbet
  • Batang Pengaduk
  • Sendok
  • Air “Club”
  • Sirup
  • Susu bubuk “Hilo”
  • Gula
  • Tepung Terigu
  • Minyak Goreng
  • Garam

 

 

Hasil percobaan :

HASIL PERCOBAAN LARUTAN

NO

PERLAKUAN

SEBELUM

SESUDAH

1.

Larutan garam

1.masukan 1 sendok garam ke bekor gelas 

  • garam berwujud padat ;serbuk;warna putih
  • Garam larut dalam air
  • Warna : keruh
  • Volume: tetap
  • Larutan : keruh
 

2.tambahkan 100 ml air

  • garam belum tercampur dengan air. 

2.

Larutan minyak

1.ukur 50 ml minyak goreng

  • Minyal berwarna kuning kental
  • Setelah di aduk 5 menit ,
  • Berwarna kinung keruh, masih terdapat sekat antara minyak dan air . terdapat 3 lapisan,volume nya bertambah 1 ml dan minyak lebih kental
 

2.ukur 50 ml air masukan ke bekor gelas

  • Air dan minyak tidak tercampur dan membentuk sekat

3

Larutan susu

1.1sendok makan susu di masukan ke bekor gelas.

  • Berewujud padat , serbuk dan berwarna coklat
  • Larut sempurna
  • Warna coklat keruh
  • Volume bertambah 3 ml
 

2.ditambahkan 50 ml air

  • belum tercampur dan membentuk gelembung

4

Larutan gula

1.masukan 1 sendok makan gula ke bekor gelas

  • Berbentuk padat
  • Warna putih

 

  • Larutan berwarna kuninh jernih
  • Terlarut sempurna
  • Larutan agak kental
  • Volume bertambah 8.5 ml

2.tambahkan air 50 ml

  • Belum terlarut
  • Air masih jernih
  • Gula belum terlarut

5.

Larutan tepung terigu

1.Masukan 1 sendok tepung terigu ke bekor gelas

  • Berwujud serbuk
  • Warna putih
  • Volume bertmabah 6 ml
  • Warna putih krem
  • Terdapat 2 lapisan (lapisan bawah berupa endapan )
  • Lebih kental di bandingkan air
 

2.tambahkan air 50 ml

  • Belum tercampur
  • Larutan memisah dengan tepung
  • Warna putih krem
  • Ada 3 lapisan yaitu: air, tepung basah, serbuk tepung

6.

Larutan sirup

1.masukan 1 sendok sirup ke bekor gelas

 

  • Warna hijau pekat, jernih dan kental
  • Larut sempurna
  • Berwarna hijau pudar n agak encer
  • Volume bertambah 4 ml
 

2.tambahkan 50 ml air

  • Belum tercampur sempurna
  • Terdapat endapan

 

 

 

 

 

 

KAJIAN PUSTAKA

Pada dasarnya materi itu adalah sesuatu yang memiliki massa dan menempati volume

Berikut adalah peta konsep dari MATERI

 

Yang kami jelaskan disini tentang campuran beserta perubahan sifat yang terjadi.

Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi.pada suhu tertentu sampai

Suatu zat dapat larut dalam pelarut tertentu, tetapi jumlahnya selaluterbatas. Batas itu disebut kelarutan. Kelarutan adalah jumlah zat terlalarutan adalah sistem yang homogen dan mengandung lebih dari satu komponen. .

Bila suatu zat terlarut yang dengan jumlah yang kecil dan masih bisa larut maka disebut larutan tak jenuh dan ketika zat terlarut tidak bisa lagi terlarut dalam pelarutnya maka kondisi larutan tersebut disebut larutan jenuh.rut yangdapat larut dalam sejumlah pelarut

Larutan dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

a) Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute (zat terlarut) kurang dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan yang partikel- partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa melarutkan zat). Larutan tak jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion < Ksp berarti larutan belum jenuh ( masih dapat larut).

b) Larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan mengadakan kesetimbangn dengan solut padatnya. Atau dengan kata lain, larutan yang partikel- partikelnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi maksimal). Larutan jenuh terjadi apabila bila hasil konsentrasi ion = Ksp berarti larutan tepat jenuh.

c) Larutan sangat jenuh (kelewat jenuh) yaitu suatu larutan yang mengandung lebih banyak solute daripada yang diperlukan untuk larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan yang tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut sehingga terjadi endapan. Larutan sangat jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion > Ksp berarti larutan lewat jenuh (mengendap).

Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut, larutan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

a) Larutan pekat yaitu larutan yang mengandung relatif lebih banyak solute dibanding solvent.

b) Larutan encer yaitu larutan yang relatif lebih sedikit solute dibanding solvent.

SISTEM KOLOID

Koloid adalah suatu sistem dispersi yang ukuran partikelnya lebih besar dari larutan tetapi lebih kecil dari suspensi(campuran kasar)

Perbandinga sifat larutan,koloid dan suspensi

LARUTAN

KOLOID

SUSPENSI

  1. Satu fase
  2. Stabil
  3. Ukuran partikel lebih kecil bari 1 nm
  4. Tidak dapat di saring
  5. Homogen : larutan gula, udara bersih , alkohol 70 %
  1. Dua fase
  2. Sukar mengendap
  3. Ukuran partikel antara 1 sampai 100 nm
  4. Dapat di saring dengan penyaring ultra
  5. Tampak homogen (jika di lihat dengan mikroskop ultra bersifat heterogen) 
  1. Dua fase
  2. Mudah mengendap
  3. Ukuran partikel lebih besar dari 100 nm
  4. Dapar disaring
  5. Heterogen

Contoh : air sungai yang keruh

 

SUSPENSI

Dalam ilmu kimia, suspensi (Inggrissuspension) adalah suatu campuran fluida yang mengandung partikel padat. Atau dengan kata lain campuran heterogen dari zat cair dan zat padat yang dilarutkan dalam zat cair tersebut. Partikel padat dalam sistem suspensi umumnya lebih besar dari 1 mikrometer sehingga cukup besar untuk memungkinkan terjadinya sedimentasi. Tidak seperti koloid, padatan pada suspensi akan mengalami pengendapan/sedimentasi walaupun tidak terdapat gangguan.

Suspensi cairan atau padatan (dalam jumlah kecil) di dalam gas disebut sebagai aerosol. Contoh sistem aerosol dalam kehidupan manusia adalah debu di atmosfer.

STABILITAS SUSPENSI

  1. Ukuran partikel

Semakin besar luas penampang partikel daya tekan ke atas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap.

  1. Kekentalan (viskositas)

Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairantersebut, mskin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun.

  1. Jumlah partikel (Konsentrasi)

Apabila dalam ruangan berisi partikel yang ebsar maka akan terjadi benturtan. Karena adanya benturan ini, menyebabkan terjadinya endapan. Oleh karena itu semakin besar konsentrasi patikel semakin besar terjadinya pengendapan.

  1. Sifat atau muatan partikel

Sifat dari bahan yang diguankan sebagai suspensi bermacam-macam. Apabila merupakan sifat alami maka kita tidak dapat memengaruhinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL ANALISA

  1. LARUTAN GARAM

Tergolong larutan karena bersifat homogen (tidak dapat di pisahkan meskipun dengan mikroskop), memiliki 1 fase , tidak dapat di saring , stabil dan semua partikelnya berdimensi kurang dari 1 nm

  1. LARUTAN MINYAK (MINYAK GORENG)

Pasti kita sudah mengetahiu sejak awal bahwa minyak tidak dapat larut dengan air . namun banyak dari kita yang tidak mengetahuinya. Banyak teori yang menyebutkan penyebab dari air tidak bisa menyatu dengan minyak. Salah satunya karena minyak memiliki gaya listrik dan bersifat tarik menarik. Namun menurut kami Penyebab dari air dan minyak tidak bisa menyatu dapat di jelaskan oleh teori  EMULSI yaitu :

a)      Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)

  1. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension).
    dari sini dapat di jelaskan apabila terjadi tegangan semakin tinggi maka air dan minyak akan semakin sulit menyatu.

b)      Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge)

  1. Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok:
  2. Kelompok hidrofilik, yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air
  3. Kelompok lipofilik , yaitu bagian yang suka pada minyak
    1.                                                               i.      Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya, kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan.

c)      Teori Interparsial Film

  1. Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper.

d)       Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap)

  1. Jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar, karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama

 

  1. LARUTAN TEPUNG TERIGU

Pada larutan tepung terigu terjadi reaksi kimia yang menyebabkan endapan. Karena pada hasil percobaan yang telah kami lakukan bahwa memang benar terdapat endapan pada larutan tepung terigu yang berwarna lebih putih dari larutannya.

Larutan tepung terigu terjadi endapan karena larutan tepung bersifat heterogen, tidak kontinu, sehingga memiliki sistem 2 fase. Dan larutan tepung terigu tergolong suspensi.

  1. LARUTAN SUSU

Dalam larutan susu terjadi larutan yang keruh, itu juga di karenakan larutan susu merupakan larutan yang memiliki sifat heterogen . ukuran koloidnya berkisaar 1 s.d 100 nm larutan susu ini tidak memisah dah juga tidak dapat di pisahkan dengan saringan dah itu juga penyebab larutan susu menjadi keruh. Sehingga dapat di simpulkan bahwa larutan susu tergolong koloid.

  1. LARUTAN GULA

Sesuai dengan percobaan larutan ini terlarut sempurna ( homogen), jernih , stabil tidak dapat di saring karena ukuran partikelnya hanya kurang dari 1 nm. Sehingga dapat di simpulkan larutan gula tergolong larutan

  1. LARUTAN SIRUP

Sesuai dengan percobaan yang kami lakukan bahwa larutan sirup ini memiliki sifat jernih ,karena jernih larutan ini tergolong homogen terdiri atas satu fase, larutannya stabil , sehingga dapat di simpulkan bahwa larutan sirup tegolong LARUTAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

 

  1. Larutan garam, larutan gula termasuk larutan  yang mamiliki sifat

1) Homogen, tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra
2) Semua partikelnya berdimensi (panjang, lebar, atau tebal) kurang dari 1 nm
3) Satu fase
4) Stabil
5) Tidak dapat disaring

  1. Larutan minyak dan larutan tepung terigu termasuk suspensi

1) Secara makroskopis bersifat homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra.
2) Partikelnya berdimensi antara 1 nm sampai 100 nm
3) Dua fase
4) Pada umumnya stabil
5) Tidak dapat disaring kecuali dengan penyaring ultra

  1. Larutan susu termasuk larutan koloid

1) Heterogen
2) Salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100 nm
3) Dua fase
4) Tidak stabil
5) Dapat disaring

Contoh laporan asam,basa dan garam

I.JUDUL PERCOBAAN

Asam , Basa dan garam

II. TUJUAN PERCOBAAN

Dari praktikum ini memiliki tujuan sebagai berikut :

2.1  Dapat mengetahui ciri-ciri dari asam basa dan garam pada kertas lakmus maupun pH indikator

2.2 Mengetahui perbedaan

III. ALAT DAN BAHAN

 

3.1 Alat :

  • Kertas Lakmus
  • pH Indikator
  • Plat tetes
  • Batang pengaduk
  • Pipet

 

            3.2 Bahan :

  • Larutan garam
  • Larutan jeruk
  • Larutan shampo
  • Larutan kopi
  • Larutan sabun
  • Larutan citrid acid
  • Larutan asam cuka
  • Air mineral

 

 

IV. HASIL PERCOBAAN                                      

Nama Bahan

Kertas Lakmus Merah

Kertas Lakmus Biru

pH indikator

Air Mineral

Merah

Biru

7

Larutan garam

Biru

Biru

10

Larutan jeruk

Merah

Merah

6

Larutan shampoo

Merah

Merah

2

Larutan kopi

Merah

Biru

7

Larutan sabun

Merah

Merah

1

Larutan citrid acid

Merah

Merah

6

Larutan asam cuka

Merah

Merah

1

 

 

 

 

V. KAJIAN PUSTAKA

Teori asam

 

Teori dari Brønsted-Lowry merupakan definisi yang paling umum digunakan. Dalam

definisi ini, keasaman suatu senyawa ditentukan oleh kestabilan ion hidronium

dan basa konjugat terlarutnya ketika senyawa tersebut telah memberi proton ke

dalam larutan tempat asam itu berada. Stabilitas basa konjugat yang lebih tinggi

menunjukkan keasaman senyawa bersangkutan yang lebih tinggi.

Sistem asam/basa; tak ada perubahan bilangan oksidasi dalam reaksi asam basa.

 

Sifat-sifat

Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:

1. Rasa: masam ketika dilarutkan dalam air.

2. Sentuhan: asam terasa menyengat bila disentuh, terutama bila asamnya

asam kuat.

3. Kereaktifan: asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif

terhadap logam.

4. Hantaran listrik: asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan elektrolit.

5. Jika diuji dengan kertas lakmus, mengakibatkan perubahan warna sebagai
berikut.

•    Lakmus biru -> berubah menjadi warna merah.
•    Lakmus merah -> tetap berwarna merah

Sifat kimia

  1. Asam kuat mempunyai nilai Ka yang besar
  2. Asam lemah mempunyai nilai Ka yang keci
  3. Asam kuat mencakup asam halida – HCl, HBr, dan HI. (Tetapi, asamfluorida, HF, relatif lemah.)
  4. Asam-asam okso, yang umumnya mengandung atompusat ber-bilangan oksidasi tinggi yang dikelilingi oksigen, juga cukup kuat;mencakup HNO3, H2SO4, dan HClO4. Kebanyakan asam organik merupakan asam lemah.

Asam juga berguna dalam kehidupan sehari-hari kita lho, contohnya    adalah sebagai berikut:
a.    Proses dalam pembuatan pupuk
b.    Proses dalam Pembuatan obat-obatan
c.    Pembersih permukaan logam
d.    Proses pembuatan Bahan peledak
e.    Proses pembuatan Pengawet makanan

 

Teori Basa

Pengertian

Definisi umum dari basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion

hydronium ketika dilarutkan dalam air. Menurut Svante Arrhenius : Basa merupakan suatu senyawa yang dapat

menghasilkan ion Hidroksida [OH], bila dilarutkan dalam air mempunyai rasa

pahit dan bersifat kaustik.

Kostik merupakan istilah yang digunakan

untuk basa kuat. jadi kita menggunakan nama kostik soda untuk natrium

hidroksida (NaOH) dan kostik postas untuk kalium hidroksida (KOH). Basa dapat

dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat tergantung pada

kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan konsentrasi

larutan basa tersebut.

Teori Dasar

pada tahun 1900 Svante Arrhenius mengemukakan teori yang

dikenal samapi sekarang yaitu Teori Asam Basa Arrhenius. “Basa merupakan

suatu senyawa yang dapat memberikan ion Hidroksida (OH) bila dilarutkan dalam

air.

Pada kimia modern basa dapat menghasilkan ion Hidroksida (OH-) dengan 2 cara:

1. Senyawa Basa dalam pelarut air menghasilkan ion Hidroksida (OH-)

secara langsung.

NaOH Na+ + OH-

2. Senyawa Basa yang bereaksi dengan air menghasilkan ion Hidroksida

(OH-).

NH3 + H2O NH4+ + OH-

Untuk menunjukan sifat basa, larutan NH3 sering ditulis NH4OH.

Jumlah ion (OH-) yang dapat menghasilkan oleh suatu molekul basa

disebut Valensi Biasa.

Karakteristik basa
Suatu zat dapat dikatakan basa jika zat tersebut punya sifat sebagai berikut.
1. Rasanya itu Pahit dan terasa licin pada kulit.
2. Apabila dilarutkan dalam air zat tersebut akan akan menghasilkan ion OH”.
3. Memiliki pH di atas 7 (pH > 7).
4. Bersifat elektrolit.
5. Jika diuji menggunakan kertas lakmus akan memberikan hasil sebagai berikut.

•    Lakmus merah -> berubah warnanya menjadi biru.
•    Lakmus biru -> tetap berwarna biru
6. Menetralkan sifat asam.

Pengelompokan basa
Berdasarkan kemampuan melepaskan ion OH”, basa dapat terbagi menjadi 2 yaitu :
a.    Basa kuat, yaitu basa yang bisa menghasilkan ion OH dalam jumlah yang besar. Basa kuat biasanya disebut dengan istilah kausatik. Contohnya kayak Natrium hidroksida, Kalium hidroksida, dan Kalsium hidroksida.
b.    Sedangkan Basa lemah, yaitu basa yang bisa menghasilkan ion OH” dalam jumlah kecil.Contohnya kayak ammonia.

Penggunaan basa dalam suatu kehidupan sehari-hari
a.    Bahan dalam pembuatan semen.
b.    Pembuatan deterjen/sabun.
c.    Baking soda dalam pembuatan kue.

Teori Garam

Pengertian

Dalam kimia, garam ialah senyawa netral yang terdiri atas ion-ion.

Garam juga bisa berarti:

  • Garam dapur, digunakan sebagai bumbu dan pengawet makanan
  • Natrium klorida, bahan baku utama garam dapur
  • Garam (kriptografi), vektor inisialisasi sandi rahasia blok
  • Bisa juga merujuk pada tiap arti ganda penggaraman

Garam (kimia)

Natrium klorida (NaCl) adalah bahan utama garam dapur

Dalam ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion

positif (kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral

(tanpa bermuatan). Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa. Natrium

klorida (NaCl), bahan utama garam dapur adalah suatu garam.

Larutan garam dalam air merupakan larutan elektrolit, yaitu larutan yang

dapat menghantarkan arus listrik. Cairan dalam tubuh makhluk hidup

mengandung larutan garam, misalnya sitoplasma dan darah.

Reaksi kimia untuk menghasilkan garam antara lain

_ Reaksi antara asam dan basa, misalnya HCl + NH3 _ NH4Cl.

_ Reaksi antara logam dan asam kuat encer, misalnya Mg + 2 HCl _ MgCl2

+ H2

Keterangan: logam mulia umumnya tidak bereaksi dengan cara ini.

Berikut ini adalah karakteristik dari garam.
1.    Memiliki titik lebur yang tinggi.
2.    Merupakan senyawa ionik dengan ikatan kuat.
3.    Dalam bentuk leburan atau larutan dapat menghantarkan listrik.
4.    Sifat larutannya dapat berupa asam, basa, atau netral. Sifat ini tergantung dari jenis asam/basa kuat pembentuknya.

Larutan Garam

Basa konjugat dari asam kuat tidak memiliki kemampuan menarik proton dari molekul air. Basa konjugat seperti ini merupakan basa-basa yang lebih lemah dari molekul air. Jika anion seperti Cl dan NO3 berada di dalam air, anion-anion tersebut tidak akan menarik H+ dari molekul air sehingga tidak mengubah pH larutan garam. Anion seperti itu hanya terhidrasi. Kation seperti K+ dan Na+ merupakan asam konjugat dari basa kuat. Kation seperti ini juga tidak memiliki kemampuan menarik gugus OHdari air sehingga tidak mengubah pH larutan. Ion-ion garam yang berasal dari basa kuat dan asam kuat tidak mengubah konsentrasi ion H+dan OH hasil ionisasi air. Jadi, garam tersebut bersifat netral di dalam larutan atau memiliki pH = 7.

Larutan Jeruk

Secara umum, buah jeruk kaya akan vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan tubuh. Dalam kandungan 100 g jeruk nipis, terdapat kalori 51 kal, protein 0,9 g, lemak 0,2 g, karbohidrat 11,4 g, mineral 0,5 g, kalsium 33 mg, fosfor 23 mg, besi 0,4 mg dan asam askorbat 49 mg.

Selain memiliki kandungan vitamin C yang tinggi, jeruk nipis juga mengandung asam sitrat, asam amino (triptofan, lisin), minyak atsiri (sitral, limonen, felandren, lemon kamfer, kadinen, gerani-lasetat, linali-lasetat, aktilaldehid, nildehid) damar, glikosida, asam sitrun, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang vitamin B1 dan C. Sedangkan daun, buah dan bunganya mengandung minyak terbang.

Karena adanya asam sitrat serta kandungan vitamin c yang tinggi menyebabkan jeruk bersifat asam.

Acid Citrid (Sitrun)

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan.Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut).

Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7 (strukturnya ditunjukkan pada tabel informasi di sebelah kanan). Struktur asam ini tercermin pada nama IUPAC-nya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat.

Sifat fisika dan kimia

Sifat-sifat fisis asam sitrat dirangkum pada tabel di sebelah kanan. Keasaman asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Sitrat sangat baik digunakan dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan. Ion sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion logam membentuk garam sitrat. Selain itu, sitrat dapat mengikat ion-ion logam dengan pengkelatan, sehingga digunakan sebagai pengawet dan penghilang kesadahan air (lihat keterangan tentang kegunaan di bawah).

Pada temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk kristal berwarna putih. Serbuk kristal tersebut dapat berupa bentuk anhydrous (bebas air), atau bentuk monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk setiap molekul asam sitrat. Bentuk anhydrous asam sitrat mengkristal dalam air panas, sedangkan bentuk monohidrat didapatkan dari kristalisasi asam sitrat dalam air dingin. Bentuk monohidrat tersebut dapat diubah menjadi bentuk anhydrous dengan pemanasan di atas 74 °C.Secara kimia, asam sitrat bersifat seperti asam karboksilat lainnya. Jika dipanaskan di atas 175 °C, asam sitrat terurai dengan melepaskan karbon dioksida dan air.

Larutan sabun

Sabun adalah suatu gliserida (umumnya C16 dan C18 atau karboksilat suku rendah) yang merupakan hasil reaksi antara ester (suatu derivat asam alkanoat yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alkanol yang merupakan senyawa aromatik dan bermuatan netral) dengan hidroksil dengan residu gliserol (1.2.3 – propanatriol). Apabila gliserol bereaksi dengan asam – asam yang jenuh (suatu olefin atau polyunsaturat) maka akan terbentuk lipida (trigliserida atau triasilgliserol).

Sabun mandi merupakan garam logam alkali (Na) dengan asam lemak dan minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Lemak dan minyak mempunyai dua jenis ikatan, yaitu ikatan jenuh dan ikatan tak jenuh dengan atom karbon 8-12 yang diberikatan ester dengan gliserin.Secara umum, reaksi antara kaustik dengan gliserol menghasilkan gliserol dan sabun yang disebut dengan saponifikasi.

Sabun lunak dibuat dari lemak dengan KOH, misalnya K-Palmitat dan K-Stearat. Sabun mandi merupakan garam logam alkali (biasanya disebut garam natrium) dari asam lemak. Sabun yang telah berkembang sejak zaman Mesir kuno berfungsi sebagai alat pembersih.

Sering ya, kita denger iklan pembersih wajah atau tubuh yang bilang, “Bebas sabun (soap-free)” atau “Tidak mengandung sabun”. Sebenernya, iklan itu hanya bermaksud bilang bahwa produk itu tidak mengandung NaOH (natrium hidroksida). Belum tentu berarti produk tersebut tidak basa atau memiliki pH (keasaman) netral. Jadi jangan merasa tertipu kalau produk yang dikatakan bebas sabun itu ternyata sifatnya basa. Coba dicek dulu komposisinya, mungkin ada KOH (kalium hidroksida di sana) 

Kalau -mungkin- ada yang belum tau atau tidak memperhatikan, sebenernya sodium itu ya natrium.

Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar. Bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan dan pakaian. Selain itu, pada larutan, surfaktan akan menggerombol membentuk misel setelah melewati konsentrasi tertentu yang disebut Konsentrasi Kritik Misel (KKM) (Lehninger, 1982).

 

Larutan Asam Asetat (asam cuka)

Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka[2] adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam danaroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.

Atom hidrogen (H) pada gugus karboksil (−COOH) dalam asam karboksilat seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H+ (proton), sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah monoprotik dengan nilai pKa=4.8. Basa konjugasinya adalah asetat (CH3COO). Sebuah larutan 1.0 M asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memilikipH sekitar 2.4.

 

 

 

 

 

 

 

 

VI. KESIMPULAN

Dari praktikum di atas dapat di simpulkan bahwa :

ð  Berdasarkan kertas lakmus dan Ph indikator. Kita dapat mengetahui larutan Basa dari kertas lakmus merah berubah menjadi biru ,kemudian kertas lakmus biru tetap warna menjadi biru. Ph indikator  > 7.

Ex = Larutan sabun.

ð  Berdasarkan kertas lakmus dan Ph indikator. Kita dapat mengetahui larutan Netral dari kertas lakmus merah tetap menjadi merah, kemudian kertas lakmus biru tetap warna menjadi biru. Ph indikator  = 7.

Ex = Air putih, Larutan garam

ð  Berdasarkan kertas lakmus dan Ph indikator. Kita dapat mengetahui larutan Asam dari kertas lakmus merah tetap menjadi merah, kemudian kertas lakmus biru berubah menjadi merah. Ph indikator  < 7

Ex = Larutan kopi, Shampo, Larutan jeruk, Asam cuka,  Asam citrat.

alat-alat praktikum kimia dan funsinya

Beberapa Alat Kimia dalam Laboratorium beserta Fungsinya

 

NAMA ALAT

FUNGSI

 

Rotavapor

Untuk memisahkan zat dari suatu campuran. Misalnya untuk memisahkan pelarut n-heksana yang digunakan untuk megektraksi minyak dari suatu bahan.

 

Botol Semprot

biasanya digunakan untuk menympan aquades dan digunakan untuk mencuci ataupun membilas bahan-bahan yang tidak larut dalam air. Selain itu digunakan juga untuk mencuci atau menetralkan peralatan-peralatan yang akan digunakan. Cara menggunakan: menekan botol maka aquades akan keluar.

 

Cawan petri atau awan Eko atau telepa Petri

(ada 2 macam yaitu yang terbuat dari kaca dan plastik)

digunakan untuk membiakkan sel. Cawan petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya

 

pH meter

(ada 2 macam yaitu digital dan anolog)

Bermacam-macam pH meter yang telah diproduksi oleh pabrik-pabrik. Digunakan untuk mengukur tingkat keasaman dari suatu zat. Biasanya sebelum digunakan dikalibarasi terlebih dahulu menggunakan larutan buffer. Larutan buffer biasanya telah disertakan dalam kemasannya, dapat pula dibeli di toko-toko kimia.

 

Multimeter (ada 2 macam yaitu digital dan analog)

Untuk mengukur kuat arus listrik atau hambatan. Misalnya untuk mengukur kuat arus yang dihasilkan dari reaksi redoks dalam sel galvani.

 

Ozon generator

Untuk membuat ozon dalam laboratorium dengan bahan dasar oksigen (O2) murni

 

Tabung Pemadam API Powder/Multipurs

Pemadam kebakaran

 

corong Büchner yang dihubungkan dengan labu yang terhubung dengan pompa vakum.

Digunakan untuk menyaring. Bahan penyaring (biasanya kertas saring) diletakkan di atas corong tersebut dan dibasahi dengan pelarut untuk mencegah kebocoran pada awal penyaringan. Cairan yang akan disaring ditumpahkan ke dalam corong dan dihisap ke dalam labu dari dasar corong yang berpori dengan pompa vakum.

 

Kalorimeter Bom

Kalorimeter bom adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor (nilai kalori) yang dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O2berlebih) suatu senyawa, bahan makanan, bahan bakar. Sejumlah sampel ditempatkan pada tabung beroksigen yang tercelup dalam medium penyerap kalor (kalorimeter), dan sampel akan terbakar oleh api listrik dari kawat logam erpasang dalam tabung.

 

Kalorimeter Larutan

Kalorimeter larutan adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat pada reaksi kimia dalam sistem sistem. Pada dasarnya, kalor yang dibebaskan/diserap menyebabkan perubahan suhu pada kalorimeter.

 

Timbangan atau neraca

Untuk menimbang massa suatu zat

 

Neraca analitik

Untuk menimbang massa suatu zat. Tingkat ketelitian lebih tinggi neraca di atas.

 

Evaporating dish atau cawan porselin

Digunakan sebagai wadah untuk mereaksikan atau mengubah suatu zat pada suhu tinggi. Misalnya penguapan larutan dari suatu bahan yang tidak mudah menguap, mengabukan kertas saring.

 

Kawat nikrom (alloy nikel dan krom)

     

(warna nyala unsur natrium, litium dan te,mbaga, kalium, kalsium, antimon)

Untuk mengidentifikasi suatu zat dengan cara uji nyala. Hal ini disebabkan setiap zat memberi warna nyala yang spesifik artinya setiap zat memiliki warna yang berbeda antara satu dengan yang lain. Walaupun demikian beberapa zat memberikan warna nyala yang hampir sama sehingga sulit dibedakan. Selain kawat nikrom, kawat platina juga sering digunakan.

 

Wadah atau tempat menyimpan bahan-bahan kimia

 

Botol reagen atau botol pereaksi

Digunakan untuk menyimpan larutan bahan kimia atau sering juga di gunakan untuk menyimpan indikator asam basa seperti fenolftalin.

 

Lup

Kaca pembesar. Dapat digunakan untuk mengamati kenaikan atau penurunan suhu pada termometer terutama termometer raksa yang tidak berwarna.

Fungsi

 

 

Erlenmeyer

Tempat membuat larutan. Dalam membuat larutan erlenmeyer yang selalu digunakan.

 

Labu destilasi

Untuk destilasi larutan. Pada bagian atas terdapat karet penutup dengan sebuah lubang sebagai tempat termometer.

 

Gelas Beaker

Tempat untuk menyimpan dan membuat larutan. Beaker glass memiliki takaran namun jarang bahkan tidak diperbolehkan untuk mengukur volume suatu zat ciar.

 

Corong gelas

Cprpng dibagi menjadi dua jenis yakni corong yang menggunakan karet atau plastik dan corong yang menggunakan gelas. Corong digunakan untuk memasukan atau memindah larutan ai satu tempat ke tempat lain dan digunakan pula untuk proses penyaringan setelah diberi kertas saing pada bagian atas.

 

Corong bucher

Menyaring larutan dengan dengan bantuan pompa vakum.

 

buret

Digunakan untuk titrasi, tapi pada keadaan tertentu dapat pula digunakan untuk mengukut volume suatu larutan.

 

Corong pisah

Untuk memisahkan dua larutan yang tidak bercampur karena adanya perbedaan massa jenis. Corong pisah biasa digunakan pada proses ekstraksi.

 

Labu ukur leher panjang

Untuk membuat dan atau mengencerkan larutan dengan ketelitian yang tinggi.

 

Gelas ukur

Untuk mengukur volume larutan. Pada saat praktikum dengan ketelitian tinggi gelas ukur tidak diperbolehkan untuk mengukur volume larutan. Pengukuran dengan ketelitian tinggi dilakukan menggunakan pipet volume.

 

kondensor

Untukl destilasi larutan. Lubang lubang bawah tempat air masuk, lubang ata tempat air keluar.

 

Filler (karet pengisap)

Untuk menghisap larutan yang akan dari botol larutan. Untuk larutan selain air sebaiknya digunakan karet pengisat yang telah disambungkan pada pipet ukur.